top of page

Perpuluhan: Disiplin Iman dan Perlawanan terhadap Mammon

Writer: Hendy Stevan
Hendy Stevan
Sep 26
4 min read

Perpuluhan: Disiplin Iman dan Perlawanan terhadap Mammon


Dalam tradisi Anabaptis, ada tiga keyakinan yang menolong kita memahami bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan sebagai pengikut Kristus: Jesus is the center of our faith , community is the center of our life , and shalom is the center of our work. Yesus adalah pusat iman kita, komunitas adalah pusat kehidupan kita, dan shalom adalah pusat pekerjaan kita.


Ketiga hal ini juga dapat menolong kita memahami perpuluhan. Bagi saya, perpuluhan bukan sekadar aturan tentang memberikan sepuluh persen dari penghasilan kita. Perpuluhan adalah sebuah disiplin rohani yang membentuk hubungan kita dengan Tuhan, dengan uang, dan dengan sesama.


Jesus is the Center of Our Faith


Saya dibesarkan dalam tradisi gereja yang tidak terlalu mengajarkan tentang perpuluhan. Karena itu, ketika kemudian saya masuk ke dalam komunitas gereja yang mengajarkan dan mempraktikkan perpuluhan, pada awalnya saya tetap berpegang pada pendirian saya. Saya tidak merasa bahwa memberikan sepuluh persen dari penghasilan merupakan sesuatu yang harus saya lakukan.


Namun pada masa itu saya juga merasakan bahwa kondisi finansial saya seperti stuck. Tidak banyak perubahan atau terobosan. Sampai akhirnya saya memutuskan mengambil sebuah langkah iman untuk mulai memberikan perpuluhan.


Saya masih ingat perasaan saya saat itu. Ada kekhawatiran dalam hati karena saya sadar bahwa sepersepuluh dari gaji bulan itu akan saya berikan. Ada rasa takut kekurangan yang cukup besar. Saya mulai menghitung kebutuhan dan bertanya, “Kalau saya memberikan sepuluh persen, apakah sisanya akan cukup?”


Justru di situlah Tuhan mulai mengubah cara pandang saya.


Saya menyadari bahwa perpuluhan adalah disiplin rohani yang mengajarkan saya bagaimana untuk percaya kepada Tuhan dan tidak mengandalkan uang. Selama ini tanpa sadar saya merasa aman ketika melihat jumlah tertentu di rekening saya. Uang memberikan perasaan aman. Tetapi melalui perpuluhan, saya belajar melepaskan sebagian dari apa yang saya anggap sebagai sumber keamanan itu dan berkata, “Tuhan, saya memilih untuk percaya kepada-Mu.”


Jadi bagi saya, perpuluhan bukan sekadar kewajiban atau tradisi gereja. Perpuluhan menjadi latihan iman. Setiap kali memberi, saya sedang melatih hati saya untuk percaya bahwa sumber kehidupan saya bukanlah gaji, pekerjaan, tabungan, atau kemampuan saya sendiri. Sumber kehidupan saya adalah Tuhan.


Yesus berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24). Karena Yesus adalah pusat iman kita, uang tidak boleh mengambil tempat Yesus di dalam hati kita.


Namun di sinilah kita juga perlu berhati-hati. Seseorang dapat memberikan perpuluhan tetapi belum tentu menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupannya. Dalam praktiknya, terkadang perpuluhan justru menjadi seperti transaksi: “Saya sudah memberikan sepuluh persen, berarti kewajiban saya kepada Tuhan sudah selesai.”


Ada orang yang merasa cukup dengan memberikan perpuluhan tetapi tidak mau melayani, tidak mau terlibat dalam kehidupan komunitas, dan tidak mau memberikan waktu, tenaga, kemampuan, serta hidupnya bagi pekerjaan Tuhan. Seolah-olah kita berkata, “Tuhan, ini sepuluh persen milik-Mu, tetapi sembilan puluh persen sisanya adalah milik saya.”


Padahal pemuridan kepada Yesus jauh lebih radikal daripada itu.


Perpuluhan bukan berarti 10% milik Tuhan dan 90% milik kita. Perpuluhan mengingatkan kita bahwa 100% kehidupan kita adalah milik Tuhan. Uang kita, waktu kita, pekerjaan kita, kemampuan kita, rumah kita, bahkan seluruh kehidupan kita berada di bawah pemerintahan Kristus.


Community is the Center of Our Life


Maleakhi 3:10 mengatakan, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku.”


Ada dimensi komunitas yang kuat dalam perpuluhan. Apa yang kita berikan dipakai untuk menopang kehidupan umat dan pekerjaan Tuhan. Semangat ini terlihat semakin jelas dalam gereja mula-mula. Kisah Para Rasul 2:44–45 menggambarkan orang-orang percaya yang rela berbagi milik mereka sehingga kebutuhan di tengah komunitas dapat dipenuhi.


Karena itu, kita tidak bisa menggantikan komunitas dengan kontribusi finansial. Gereja bukan organisasi yang hanya membutuhkan uang kita. Gereja adalah tubuh Kristus yang membutuhkan kehadiran kita.


Kita dipanggil bukan hanya untuk memberi kepada komunitas, tetapi juga untuk menjadi bagian dari komunitas: hadir, melayani, berbagi kehidupan, memperhatikan satu sama lain, dan bersama-sama memikul beban.


Shalom is the Center of Our Work


Perpuluhan juga dapat menjadi sebuah tindakan perlawanan terhadap Mammon mindset dan pola pikir kapitalistik-konsumeristik yang mengajarkan bahwa semakin banyak kita memiliki, semakin aman dan berhasil kehidupan kita.


Mammon berkata, “Simpan lebih banyak supaya kamu aman.”

Yesus mengajar kita untuk percaya.


Mammon berkata, “Kumpulkan sebanyak mungkin untuk dirimu sendiri.”

Yesus mengajar kita untuk berbagi.


Mammon berkata, “Nilaimu ditentukan oleh apa yang kamu miliki.”

Yesus mengingatkan bahwa hidup seseorang tidak bergantung pada kekayaannya (Lukas 12:15).


Sejak saya mulai memberikan perpuluhan, perlahan tetapi pasti mindset saya tentang uang berubah. Saya belajar melepaskan ketakutan akan kekurangan. Dalam perjalanan hidup saya, saya mengalami bahwa saya tidak pernah merasa kekurangan. Tuhan selalu mencukupkan, bahkan sering kali memberikan lebih daripada yang saya perlukan.


Karena itu, ILC percaya dan mempraktikkan perpuluhan. Bukan sebagai transaksi dengan Tuhan, bukan sebagai ukuran keselamatan atau kerohanian seseorang, dan bukan sebagai pengganti pelayanan atau keterlibatan dalam komunitas. Kita mempraktikkannya sebagai disiplin pemuridan.


Kita memberi karena Yesus adalah pusat iman kita. Kita hadir dan berbagi karena komunitas adalah pusat kehidupan kita. Kita menggunakan seluruh sumber daya yang Tuhan percayakan kepada kita untuk menghadirkan shalom, karena shalom adalah pusat pekerjaan kita.


Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya sudah memberikan 10%?” Pertanyaan yang jauh lebih dalam adalah:


“Apakah saya mempercayai Tuhan lebih daripada saya mempercayai uang?”


Dan bahkan lebih jauh lagi:


“Apakah Yesus sudah menjadi Tuhan atas 100% kehidupan saya?”

 
 
 

Recent Posts

See All
Encounter: Meeting God

"You will seek Me and find Me when you seek Me with all your heart." — Jeremiah 29:13 The Bible is filled with stories of people who encountered God. Every encounter brought transformation. Lives were

 
 
 

Comments


cropped-cropped-MosaicHorizontalLogo_rgb.png

ILC is member of

©2020 by Indonesian Light Church Philadelphia. Proudly created with Wix.com

bottom of page